moto GP Jeres

Mei 2, 2010

Keberhasilan Jorge Lorenzo mencuri podium pertama dari tangan Dani Pedrosa, membuyarkan impian tim  Honda untuk menduduki posisi terhormat pada gelaran moto GP. Dari dua seri yang telah digelar, Yamaha kokoh menguasai klasemen konstruktor, begitu juga dua ridernya berada pada posisi satu dua dalam klasemen sementara.

Momentum di batalkannya seri moto GP Jepang dua minggu lalu, benar-benar menguntungkan kubu Dani Pedrosa dengan performa motor yang mumpuni selama race berlangsung. Kesialan justru menimpa Rossi yang tertimpa cidera ketika mencoba mengisi waktu luang dengan motor pacuan yang lain. Dua kisah berbeda dengan hasil lomba yang sepadan.

Acungan jempol patut di berikan kepada Jorge Lorenzo yang konsisten menjaga ritme lomba dan menonjok menjelang usainya lomba, persis seperti yang dia tunjukan pada lomba perdana.

Ducati lebih moderat sekarang, dimana tidak hanya Stoner yang bisa menguasai binalnya motor ini. Hayden dalam dua lomba awal musim ini cukup impresif meski belum menggapai podium, sebuah hasil positif dari regulasi pengurangan jumlah mesin dalam satu musim.

Dibandingkan dengan moto 2, jujur saja moto GP kurang bergairah karena lomba berpusat pada Pedrosa, Rossi, Lorenzo dan Stoner, begitu juga dengan tim peserta yang hanya belasan. Sehingga harus ada terobosan baru untuk kembali memeriahkan lomba bergensi ini.

Khusus untuk The Doctor, kecerobohan yang dia lakukan harus menjadi catatan bagi rider yang lain. Memang The Doctor masih mampu meraup point dalam dua lomba perdana musim 2010 ini, tapi cidera yang dialami jelas mempengaruhi jalannya lomba yang bagaikan parade/karnaval.

Kasus yang lain telah lebih dulu muncul, yaitu ketika moto GP masih bertajuk GP 500. Juara dunia andalan tim Lucky Strike Suzuki, Kevin Schwanz harus pensiun akibat kecelakaan di luar lomba GP. Kabarnya ketika itu dia kecelakaan saat sedang bersepeda, dan menimbulkan trauma baginya.

Memang saat ini Rossi masih mungkin meraih juara dunia, tetapi ada baiknya belajar dari kasus pembalap senior diatas. Beruntungnya bagi Rossi maupun Kevin Schwanz, mereka masih dapat menjalani hidup normal. Tetapi jika di paksakan, cedera Rossi saat ini dapat berakibat buruk jika terjadi kecelakaan di lintasan balap, kasus kecelakaan parah telah menimpa jagoan Yamaha era 1990-an, Wayne Renay yang saat ini terpaksa menjalani hidup diatas kursi roda, padahal ketika itu dia mengikuti  lomba dalam keadaan 100 % prima, namun kecelakaan tak dapat di hindarkan.

Bagaimana jika cedera Rossi menghasilkan kecelakaan lagi di lintasan? Jawaban yang pasti adalah: gelaran moto GP menjadi sayur tanpa garam, hambar, tidak menarik. Dan dibutuhkan waktu untuk mengembalikan kemegahan balap motor prototype ini.

Iklan

Silverstone berdandan

Mei 1, 2010

Sirkuit Silverstone tahun ini tidak menggelar balapan F1, semua sudah tahu. Landskap sirkuit ini adalah yang paling datar diantara sirkuit yang di pakai untuk menggelar balap, sudah tahu kan kenapa! Yup , betul sekali. Sirkuit ini di bangun di bekas landasan pesawat terbang. Pada tahun 2010 ini, Silverstone sedang di sibukkan dengan kegiatan renovasi, anda bisa mencari tahu di f1.fanatic untuk rinciannya. Karena disini hanya ada sepotong informasi.

Perusahaan perancang circuit balap terkenal milik Hermann Tilke, hampir memonopoli desain lintasan Formula 1 ditandai dengan banyaknya sirkuit yang di bangun dengan desain mereka. Tetapi tidak semua pelaku bisnis balap menyukai hasil rancangan Tilke, karena di nilai kurang dapat menyuguhkan tontonan yang menarik.

Salah satu pihak yang tidak mau menggunakan jasa Tilke adalah Silverstone, maka manajemen pengelola sirkuit memilih Populous untuk melakukan perubahan lay out sirkuit. Populous merupakan perusahaan yang merancang desain Dubai Autodrome di Uni Emirat Arab.

Layout baru ini nantinya akan memperbesar sudut tikungan Abbey (abbey corner) dan tikungan Farm (farm corner) sehingga merubah dari tikungan berkarakter lambat menjadi tikungan berkarakter cepat dimana mobil F1 dapat melaju hingga 185 mil/jam. Desain ini di buat setelah mendapat masukan dari para driver F1.

Sirkuit Silverstone nantinya akan merupakan tiga sirkuit terintegrasi, sehingga dapat menggelar berbagai macam lomba terutama F1 dan MotoGP. Secara keseluruhan renovasi Silverstone di jadwalkan akan selesai tahun 2012, namun mereka juga telah siap untuk menggelar balapan F1 pada tahun 2011 mendatang.


moto GP vs super bike

April 26, 2010

Jelas berbeda antara motoGP dan super bike, tetapi di Indonesia ada kesamaanya yaitu pada stasiun tv yang menayangkannya.

Judul di atas, saya maksudkan untuk tingkat persaingan dalam setiap lomba. Dalam motoGP jarang sekali persaingan di posisi podium berlangsung seru hingga garis finis. Bandingkan dengan gelaran superbike yang hampir di sepanjang lomba selalu berlangsung menarik.

Bahkan seperti yang saya lihat di tv kemarin malam, balapan tidak hanya di dominasi oleh merk motor tertentu. Setidaknya tiga merk motor selalu berebut posisi menjadi yang terbaik. Inilah kelebihan WSBK.

Mungkin harus ada regulasi baru untuk motoGP, sehingga tidak monoton di kuasai oleh merk tertentu.  Atau setidaknya balapan berlangsung seru, dari awal hingga akhir. Mungkin cara yang di pakai FIA bisa di pakai oleh FIM, yaitu engine freeze.

Dengan regulasi seperti itu, pabrikan yang motornya belum bisa bersaing masih mempunyai waktu untuk berbenah (tapi tidak merubah desain dasar mesin),  karena tim dengan motor bermesin bagus tidak bisa mengembangkan mesin baru.

Mungkin cara ini juga akan menekan biaya, sehingga makin banyak tim yang ikut berpartisipasi.  Bukankah semakin banyak peserta, semakin menarik jalannya lomba?


ada apa dengan Honda

April 25, 2010

Rekrutment Pedrosa belum menghasilkan gelar juara buat Honda, padahal sejak di gulirkannya pemakaian mesin 800 cc, Honda berharap banyak dengan postur Pedrosa yang mungil yang diharapkan sesuai dengan motor. Banyak analisa ketika itu yang menyebut keuntungan Honda merekrut Pedrosa, karena motor yang lebih ringan dan dan pembalap dengan postur seperti Pedrosa, centre of gravity dapat dimaksimalkan sehingga motor dapat melaju kencang dan mudah dikendalikan.

Ketika wacana mesin akan di kembalikan ke 1.000 cc, jelas menambah PR buat Honda. Tidak berlebihan jika saya menyebut, inilah kegagalan Honda setelah di tinggal Valentino Rossi. Untuk musim 2009, penampilan Honda tidak cemerlang dan sampai musim 2010 di mulai, Honda belum juga prima. Problem ke-stabil-an motor masih menjadi persoalan bagi Pedrosa, tetapi kenapa Dovisiozo dapat meraih hasil yang memuaskan di Qatar?

Persoalan penting adalah, Pedrosa bukanlah developer rider. Sehingga hampir semua pengembangan yang dilakukan Honda berjalan tanpa arah yang jelas. Padahal untuk urusan mesin, power motor ini jelas lebih kuat di banding Yamaha atau Suzuki, dan yang dapat menyaingi hanyalah Ducati.

Tidak salah juga musim 2009 kemarin Dovisiozo sempat berkeluh kesah tentang motornya, karena Honda hanya mendengar advis Pedrosa sebagai pembalap utama. Semoga saja awal musim ini Honda mau mendengar rider ke duanya: Dovisiozo. Bahkan kalau perlu membangun motor dengan konsep berbeda disesuaikan dengan rider yang mengendarainya. Bukankah tim ini punya banyak dana?